Lennon: Working Class Hero

Lennon: Working Class Hero

Hampir, atau bahkan lebih dari sejuta orang di seluruh penjuru dunia ini berupaya menginterpretasikan sosoknya yang unik. Baik ke dalam bentuk tulisan, lagu, atau pun karya seni kontemporer lainnya. Tulisan berikut, merupakan wujud kekaguman saya terhadap sang tokoh idola…

Oh, Dear John..

Di saat banyak orang yang mencemooh serta menganggapnya norak, kurang kerjaan, drugs addict, pembawa pengaruh buruk, penganut ajaran setan! Saya justru lebih memilih untuk berdiri bersama jutaan orang lain yang menganggapnya sebagai pahlawan. Well sure! Setidaknya, John adalah pahlawan dalam diri saya, di saat saya merasa jenuh mendengarkan musik kontemporer modern yang terkesan sangat minim makna, dan hanya mengedepankan nuansa komersil belaka.

Musiknya yang cerdas mampu menembus batasan intelektual saya, mempenetrasi nilai-nilai kultural, mengempati emosi, serta membuai alam sadar yang pada akhirnya membawa saya merasuki sebuah ruangan gelap, yang di penuhi dengan trauma masa kecil yang buruk. Tak mengherankan memang, jika pada sebagian besar liriknya sarat dengan muatan2 sinisme, sindiran satir, bahkan makian.

Ketika bertutur dalam lagu-lagu yang ia ciptakan, John memiliki karakter yang cenderung straight to the point, terkadang malah terkesan terlalu blak-blakkan (beda dengan Paul yang selalu optimis, dan penuh cinta kasih). Berikut adalah penggalan lirik Mother, yang menceritakan bagaimana sedihnya ia ketika harus di tinggal pergi oleh sang ibu, Julia Stanley, untuk selama-lamanya. Sekaligus juga menceritakan tentang ayah yang telah begitu kejam mentelantarkannya sejak ia balita. Alfred Lennon, sang ayah, baru kemudian muncul secara tiba-tiba setelah mengetahui bahwa anaknya adalah seorang artis terkenal.

Mother, you had me, but I never had you
I wanted you, you didn’t want me
So I, I just got to tell you
Goodbye, goodbye…

Father, you left me, but I never left you
I needed you, you didn’t need me
So I, I just got to tell you
Goodbye, goodbye…

Mama, don’t go/Daddy come home !!!!!!!!!

Lirik tersebut, ia teriakkan berulang-ulang sembari menangis di depan sebuah microphone. Di hadapan jutaan orang audience.

Lennon is Jenius!

Kata-kata tersebut pernah terlontar dari mulut seorang Freddie Mercury, vokalis sekaligus komposer grup band legendaris, Queen. Freddie pun mengakui bahwa musik yang ia ciptakan tidak terlepas dari pengaruh musik John secara khusus, dan The Beatles. Namun Freddie bukanlah satu-satunya orang yang terpengaruh oleh musik John pra – pasca The Beatles. Hampir sebagian besar musisi hebat yang dibesarkan oleh budaya pop abad-20’ terinflunce oleh musik sang jenius.

John memiliki sifat urakan namun cerdas. Dan hal tersebut seringkali ia tunjukan kepada dunia. Ia pun memiliki julukan smart beatle, semasa masih berada di grup band tersebut. Kerja kerasnya berhasil menciptakan tipikal musik yang jauh melampui zamannya. Bahkan di saat era teknologi digital telah begitu dahsyat melanda seperti sekarang, masih ada diantara beberapa lagu John yang terdengar sulit dimengerti. Di era 60, lagu2 berikut malah terlalu sulit untuk dimainkan secara live. Im The Walrus, Norwegian Wood, Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band, dan Rain, adalah salah satu contohnya. Walaupun ada juga lagu seperti, In My Life, dan Strawberry Fields Forever, yang lebih mengedepankan komposisi melodi yang indah dan memukau, walau masih agak sedikit sophisticated.

Pada era 60-an, di saat musik kebanyakan hanya mengandalkan sound standar seperti, Guitar, Bass, Drum, The Beatles (dengan John sebagai pencetusnya) bereksperimen dengan memasukan unsur efek seperti, suara anjing, burung, sirine polisi, orang teriak dan ketawa, serta banyak lagi bunyi2an aneh. Belum lagi penggunaan running chords yang tidak lazim, yang dipaduan dengan alat musik tradisonal seperti, Sitar, Clarinet, Hammond, dll. Namun akhirnya, justru membuat harmonisasi melodi yang indah. Dan semua ini tidak terlepas dari andil John yang memang terkenal gemar berksperimen dengan musik.

Dengan segala kejeniusannya, bahkan ia kerap menciptakan kata-katanya sendiri tatkala menulis lirik lagu. Kehebatannya dalam permainan kata (yang diakui sendiri oleh George Martin – sang produser) mungkin dapat disejajarkan dengan Edgar Allan Poe, seorang penyair terkenal yang namanya terselip di dalam lirik lagu Im The Walrus ciptaan John. Ide-idenya ketika masih menjadi seorang Beatle pun sering dianggap nyeleneh namun fantastis, seperti ketika ia memanjangkan rambut dan jenggot demi memprotes perang dunia yang diprakarsai oleh Amerika (Kelak trend ini dikenal dengan sebutan Hair Peace). Belum lagi simbol dua jari antara telunjuk dan jari tengah yang berarti damai. Peace man!

 

Rebel Never Get Old!

John memiliki kepekaan sosial yang tinggi walaupun agak keras kepala. Pernah ada sebuah kejadian yang membekas hingga akhir hidupnya. Ketika ia secara tidak sengaja menyaksikan peristiwa cukup tragis dengan mata kepalanya sendiri. Julia, sang ibu ditabrak hingga mengakibatkan kematian oleh seorang perwira polisi yang ugal-ugalan. Dan ironisnya, perwira polisi tersebut lolos dari segala jerat tuntutan hukum. Sifat pemberontak, anti-penguasa, dan anti-sistem pun muncul akibat pengalaman pahitnya tersebut. Ia kerap pula menunjukkan sikapnya yang penuh perlawanan tidak hanya di depan publik, tetapi juga di sebagian besar lagu-lagunya.

Di era 60/70-an, saat kecamuk perang vietnam menimbulkan kontroversi di berbagai penjuru dunia, dan serta merta melahirkan anak-anak muda ‘generasi bunga’, John pun tidak tinggal diam. Pertama, ia mengembalikan medali kehormatan/gelar kebangsawanannya (MBE) kepada pihak kerajaan Inggris yang dianggapnya turut andil bersama AS dalam menginvasi Vietnam. Kemudian, pasca lepas dari Beatles, ia banyak terlibat dalam gerakan2 bawah tanah melawan pemerintahan Nixon saat itu. Hingga ia dipaksa untuk keluar dari tanah Amerika yang sudah terlanjur ia cintai.

Usaha pemerintah AS terhadap John Lennon tersebut tidak pernah berhasil, baik lewat jalur legal maupun non-legal (intimidasi). Jalur persidangan antara AS versus John Lennon, akhirnya pun dimenangkan oleh sang jenius. Walaupun ironisnya, tak lama berselang ia mendapatkan kartu izin tinggal, John tewas di tembak mati oleh seorang pembunuh gila, Mark David Chapman. Banyak yang berpendapat, bahwa kasus kematian John ini tidak terlepas dari konspirasi para petinggi-petinggi CIA. John disebut-sebut sebagai lawan politik/potensi berbahaya yang dianggap mampu membawa aksi massa dalam jumlah besar melawan pemerintah AS.

Sampai menjelang akhir hidupnya, John selalu tampil sebagai sosok yang memberontak! Tidak kenal takut terhadap apapun selama apa yang dianggapnya benar. Karena kepribadiannya tersebut, menurut saya ia tidak pernah ‘benar-benar mati’, ia hanya mati di dalam benak para politikus rakus, pemimpin-pemimpin yang menyenangi perang sebagai solusi, serta para generasi muda yang tidak memiliki dan menghargai seni serta sejarah.

67 tahun yang lalu, ada seorang bayi mungil yang dilahirkan ke dunia. Tanpa perlakuan yang istimewa, dan tanpa adanya tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi seseorang yang istimewa. Bayi tersebut bernama, John Winston Lennon, sang jenius sekaligus pemberontak yang membawa generasi muda pasca 60-an melewati hidup mereka dengan lebih berwarna. <KotakRokok>

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *