Dibalik Legenda Buku Belajar Membaca Budi Dan Ani

Dibalik Legenda Buku Belajar Membaca Budi Dan Ani

Weeps  yang dulu duduk Sekolah Dasar sekitar tahun 80-an dan awal 90-an pasti tidak asing lagi dengan buku di atas. Itu adalah buku pelajaran Bahaasa Indonesia ( membaca dan menulis ) yang dijadikan acuan di jamannya ( lebih terkenal dengan buku ini budi ). Mungkin Weeps ada yang belum tahu siapa sih pencetus dan penyusun metode membaca pada buku tersebut. Berikut ane sedikit buat thread tentang tokoh dibalik buku tersebut.

 

Adalah Ibu/Nenek Hj. Siti Rahmani Rauf, kelahiran Padang, 5 Juni 1919, yang kini telah menjadi legenda tak tergantikan.

Ibu dari 9 anak ini, memulai karir mengajarnya dari jaman Belanda. Beliau sangat fasih sekali dalam berbahasa Belanda. Mantan guru di jaman Belanda yang bergaji 25 gulden Belanda ini baru diangkat menjadi guru pemerintah pada tahun 1937. Beliau pensiun sebagai mantan kepala sekolah SDN Tanah Abang 5 pada tahun 1976.
Beliau menceritakan, Ide membuat buku paket bahasa Indonesia berangkat dari kegelisahan ibu Ani terhadap metode pembalajaran yang ada. Pada saat upgrading guru-guru, dan kepala sekolah oleh penilik sekolah, penggunaan system ejaan dalam pelajaran bahasa Indonesia belum menggunakan system Analisa Sintesa (SAS). Oleh karena itu beliau memiliki ide untuk membuat buku pelajaran belajar membaca yang berbeda dari yang ada. Ide beliau itu beliau tulis tangan lengkap dengan visualisasi gambar, dan beliau kirimkan kepada penerbit pemerintah di bawah naungan pendidikan dan kebudayaan sekitar tahun 1980-an.
Ternyata buku yang beliau susun sangat digemari oleh para guru pada saat itu. Banyak guru memakai buku itu untuk mengajarkan membaca kepada para murid SD, sehingga buku karya beliau dicetak dalam jumlah banyak dan tersebar ke seluruh daerah yang ada di Indonesia. Beliaupun mendapatkan hadiah berupa Ongkos Naik Haji (ONH) dari penerbit di tahun 1986.

 

Buku ‘Ini Budi’ karangan Siti Rahmani Rauf (95) bermula dari Pemerintah Hindia Belanda yang menghapus sistem ejaan. Padahal buku dengan sistem ejaan sudah membantu Nenek Rauf mengenal huruf dan baca tulis. Maka sekitar tahun 1980-an terbersitlah ide membuat buku yang bisa memudahkan murid-murid membaca.
“Tahun 1980-an, saya terbersit ide membuat buku untuk membantu anak-anak agar bisa membaca. Bedanya, buku yang saya susun itu memiliki visualisasi gambar,” ungkap Nenek Rauf.
Buku ini budi adalah buku penuntun SD tahun 1970 – 1980an yang diterbitkan oleh DEP. P&K di jaman Pak Harto dulu dan menjadi buku seragam kurikulum SD seluruh Indonesia.

Budi adalah tokoh sentral dalam buku bacaan itu, yang mampu menghipnotis pembacanya untuk rajin belajar dan membaca tanpa bimbingan les tambahan dan dibawah pengawasan orangtua.

 

Berikut perjalanan dan kenangan Ini Budi :

1. Metode peraga atau buku yang disusun keluarga Rauf merupakan alat peraga yang baik dan mudah membantu anak bisa membaca.
2. Buku bersampul cokelat dengan bentuk horisontal ini tidak hanya memuat rangkaian huruf tapi dilengkapi dengan visual. Dengan gambar sederhana, siswa di era tahun 1980-an dengan mudah mengerti dan memahami metode baca tersebut.
3.. Gambar tokoh Budi beserta keluarganya diangkat sesuai tema disetiap halamannya. Gambar yang menunjukkan siapa itu Budi dan karakter lainnya membuat anak tidak hanya bisa membaca tapi juga mengenal karakter seseorang.
4. Nenek Rauf dibantu oleh Karmeni, sengaja memakai kata Budi dan Ani agar mudah dibaca oleh anak-anak.
5. Metode mengeja yang disebut sebagai sistem analisa sintesa disekat per suku kata. Biasanya alat peraga tersebut ditulis dengan kapur di papan tulis hitam yang terbentang di depan kelas. Menggunakan penggaris kayu panjang, guru membimbing siswanya untuk membaca tulisan tersebut.
Ini Budi
Ini – Budi
I-ni Bu-di
I-n-i B-u-d-i
I-ni Bu-di
Ini – Budi
Ini Budi

6. Alat peraga oleh kontribusi keluarga Nenek Rauf bertahun-tahun menjadi acuan guru hampir di seluruh Indonesia. Saking melekatnya tokoh Si Budi sampai kini jika mengenal orang bernama Budi, secara khusus generasi 1980-an sampai 1990-an, pasti akan selalu teringat dengan pelajaran Bahasa Indonesia di jaman sekolah dulu.

 

Di usia yang menginjak umur 95 tahun, beliau masih nampak segar. Namun kondisi tubuh Nenek Rauf yang lemah di usia senja mengharuskan beliau untuk banyak berbaring. Beliau lumpuh sejak lima tahun terakhir. Beliau sangat senang sekali kalau ada orang yang mau mendengarkan pengalamannya dulu ketika menjadi guru.

Beliau juga bercerita kalau mantan murid-muridnya banyak yang menjadi orang. Ada yang menjadi dokter, dan ada juga yang hanya menjadi supir angkot.
Suatu ketika, ada seorang mantan muridnya yang menjadi sopir angkot. Ketika hendak membayar, sopir angkot itu menolaknya. Katanya dia mantan murid ibu ani.
Ketulusan keluarga Rauf bagi dunia pendidikan Indonesia sesungguhnya layak mendapat apresiasi masyarakat dan pemerintah. Tidak seperti materi buku pelajaran kini yang terlampau sering menuai kritik dan kontroversi, Siti Rahmani Rauf dan Karmeni Rauf bekerja sungguh-sungguh memuat materi pelajaran yang mudah dimengerti oleh anak, disamping juga penuh dengan nilai-nilai keteladanan.
“Saya berharap bisa dimunculkan kembali buku tersebut. Guru-guru mengaku tertolong dalam mengajar anak didiknya dengan buku tersebut,” demikian harapan Karmeni Rauf dan ibundanya, Siti Rahmani Rauf.

Mungkin, kenangan Ini Budi boleh saja dicerabut dari generasi muda. Namun demikian, apakah pemerintah pernah menaruh perhatian pada sosok Siti Rahmani Rauf? Sebab di usia senja, yaitu 95 tahun, baru sedikit saja orang yang tahu dan menghargai kontribusi beliau bagi dunia pendidikan Indonesia selama puluhan tahun lamanya.

Tokoh Budi selalu hidup di hati para pembacanya hingga kini. Namun, saat ini buku Budi telah berganti dengan komik yang selalu dibaca dan hidup dalam hati anak – anak. Mungkin buku Budi saat ini telah masuk gudang kuno yang tak disentuh lagi.

Terimakasih Ibu Rahmani. Berkat jasamu, akhirnya kami semua bisa membaca dan menulis. Semoga Allah SWT. senantiasa melimpahkan kebaikan dan menjadikan surga tempat kembali yang kekal.

 

 

Share this post